Data BPS, Populasi Ternak Konawe Tertinggi di Sultra, Sapi Potong dan Kambing Mendominasi

Kepala dinas Peternakan dan kesehatan hewan

INPEDIA.ID : KONAWE – Kabupaten Konawe tercatat sebagai daerah dengan populasi hewan ternak terbanyak di Provinsi Sulawesi Tenggara berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025.

Data BPS menunjukkan total populasi ternak di Kabupaten Konawe mencapai 137.776 ekor, terdiri atas sembilan ekor sapi perah, 72.878 ekor sapi potong, 264 ekor kerbau, seekor kuda, 63.017 ekor kambing, dan 1.607 ekor babi.

Besarnya populasi ternak tersebut didukung oleh luas wilayah serta potensi sektor peternakan yang dimiliki Kabupaten Konawe, sehingga daerah ini menjadi salah satu sentra pengembangan komoditas peternakan di Sulawesi Tenggara.

Sementara itu, Kabupaten Konawe Selatan menempati urutan kedua dengan total populasi ternak sebanyak 70.711 ekor, yang didominasi oleh sapi potong sebanyak 56.925 ekor.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Konawe Sitiana mengatakan populasi ternak, khususnya sapi potong, pada dasarnya terus mengalami peningkatan setiap tahun. Hal ini karena berbagai program pengembangan yang dijalankan pemerintah daerah.

Namun, berdasarkan data Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Konawe pada 2026, populasi sapi potong saat ini tercatat sebanyak 63.033 ekor atau lebih rendah dibandingkan data BPS 2025.

“Penurunan populasi tersebut dipengaruhi tingginya permintaan sapi, baik dari dalam maupun luar daerah, terutama menjelang Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha lalu,” kata Sitiana.

Meski demikian, pihaknya optimistis populasi sapi potong akan kembali meningkat melalui pelaksanaan program inseminasi buatan (IB) yang secara rutin dilakukan oleh petugas inseminator di lapangan.

“Populasi ini akan terus kami tingkatkan melalui program inseminasi buatan yang secara konsisten dilaksanakan oleh petugas di lapangan,” ujarnya.

Selain program inseminasi buatan, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan juga terus melaksanakan vaksinasi ternak untuk mencegah penyebaran penyakit hewan menular, seperti penyakit mulut dan kuku (PMK) serta penyakit menular lainnya.

Menurut Sitiana, peningkatan populasi ternak tidak hanya berasal dari program inseminasi buatan, tetapi juga didukung oleh perkawinan alami yang dilakukan para peternak. Namun, metode inseminasi buatan dinilai mampu menghasilkan bibit sapi yang lebih unggul dengan tingkat keberhasilan sekitar 50 hingga 60 persen.

Ia menambahkan, jenis sapi yang dikembangkan di Kabupaten Konawe meliputi sapi Bali atau sapi lokal, serta sapi Brahman, Simmental, dan Limousin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *