INPEDIA.ID : MAKASSAR – Bupati Konawe, Yusran Akbar, mempresentasikan berbagai potensi sektor pertanian dan peternakan Kabupaten Konawe kepada manajemen PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPI) sebagai upaya menarik investasi di bidang agribisnis dan memperkuat ketahanan pangan daerah.
Pemaparan tersebut disampaikan saat kunjungan Pemerintah Kabupaten Konawe ke kantor PT Charoen Pokphand Indonesia di Kawasan Industri Makassar (KIMA), Sabtu (11/7). Rombongan diterima Regional Head Eastern Indonesia 1 PT Charoen Pokphand Indonesia Hadi Widajad bersama jajaran manajemen perusahaan.
Dalam presentasinya, Yusran menjelaskan Konawe memiliki sumber daya alam yang mendukung pengembangan industri pangan, mulai dari lahan pertanian yang luas, infrastruktur irigasi, hingga ketersediaan bahan baku jagung yang dibutuhkan industri pakan ternak.
Kabupaten Konawe memiliki potensi areal persawahan dan perkebunan lebih dari 55.000 hektare. Sektor pertanian juga didukung Bendung Wawotobi yang mampu mengairi sekitar 18.000 hektare sawah serta Bendungan Ameroro yang mulai beroperasi sejak 2024 untuk melayani irigasi seluas 3.363 hektare.
Menurut Yusran, pemerintah daerah juga tengah memperkuat produksi jagung sebagai salah satu komoditas strategis. Mulai 2026, setiap desa di Konawe diwajibkan menyiapkan sedikitnya 10 hektare lahan untuk pengembangan jagung pakan guna menjamin ketersediaan bahan baku industri.
“Kami ingin memastikan bahan baku tersedia sehingga investor memiliki kepastian dalam mengembangkan usahanya di Konawe,” kata Yusran.
Selain potensi pertanian, pemerintah daerah menawarkan peluang investasi pada sektor peternakan unggas melalui pengembangan kawasan peternakan terintegrasi yang menjadi salah satu program prioritas daerah.
Yusran mengatakan kebutuhan telur dan daging ayam di Konawe masih cukup tinggi, namun sebagian besar pasokan masih didatangkan dari luar daerah, seperti Kolaka dan Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan.
“Kami melihat peluang pasarnya sangat besar. Karena itu kami ingin membangun ekosistem peternakan yang terintegrasi agar kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi dari produksi daerah sendiri,” ujarnya.
Ia menjelaskan pemerintah daerah akan menyiapkan berbagai fasilitas pendukung, mulai dari infrastruktur jalan, penyediaan air bersih, pengelolaan limbah, hingga kemudahan perizinan bagi investor maupun peternak yang ingin mengembangkan usaha di kawasan tersebut.
Menurut Yusran, pemerintah daerah juga akan berperan sebagai fasilitator dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan dan pendampingan bagi peternak.
Ia menambahkan, pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis diperkirakan akan meningkatkan kebutuhan telur dan daging ayam sehingga diperlukan investasi baru untuk menjaga keseimbangan antara produksi dan permintaan pasar.
Sementara itu, General Manager Human Capital Personal General Affair PT Charoen Pokphand Indonesia wilayah Indonesia Timur, Baso Alim Bahri, menyambut baik kunjungan Pemerintah Kabupaten Konawe.
Ia berharap pertemuan tersebut menjadi awal terbangunnya komunikasi dan kolaborasi yang dapat memberikan manfaat bagi pengembangan sektor perunggasan, ketahanan pangan, dan pembangunan ekonomi daerah.
Dalam kesempatan yang sama, manajemen PT Charoen Pokphand Indonesia memaparkan kapasitas produksi perusahaan di Sulawesi Selatan. Pabrik Makassar memiliki kapasitas produksi pakan ternak sekitar 450.000 ton per tahun dengan kemampuan menerima jagung hingga 2.200 ton per hari.
Adapun pabrik Maros yang mulai beroperasi pada 2025 memiliki kapasitas produksi sekitar 600.000 ton per tahun dengan daya serap jagung mencapai 2.000 ton per hari. Dengan dua fasilitas tersebut, perusahaan mampu menyerap sekitar 4.200 ton jagung setiap hari.
Pemaparan kapasitas industri tersebut menjadi salah satu bahan diskusi antara Pemerintah Kabupaten Konawe dan PT Charoen Pokphand Indonesia dalam menjajaki peluang kerja sama pengembangan industri peternakan dan hilirisasi hasil pertanian di Kabupaten Konawe.













