INPEDIA.ID : KONAWE – Biasanya, awal tahun menjadi awal yang membahagiakan bagi para petani di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara. Bendungan, embung, dan waduk kembali terisi penuh, ditandai dengan curah hujan yang cukup intens. Air mengalir lancar ke petak-petak sawah, membawa harapan akan panen yang baik.
Namun, suasana itu tak dirasakan oleh petani di Kecamatan Asinua, wilayah barat Konawe tepatnya di desa Ahua Jaya dan Lasada.
Di awal tahun ini, hujan memang tetap turun. Tapi jumlahnya tak sebanding dengan luas lahan pertanian yang membutuhkan pasokan air. Curah hujan yang ada hanya mampu mengisi setengah dari kapasitas bendungan. Akibatnya, air irigasi tak mampu menjangkau seluruh area persawahan.
Meski demikian, semangat petani untuk mengolah lahan mereka tidak redup. Sawah tetap digarap, benih ditebar bibit di tanam sembari menunggu hujan kembali mengisi bendungan. Namun hal itu diluar dari ekspektasi dan harus menghadapi kekeringan.
Salah seorang petani setempat, Hasmar, merasakan langsung dampaknya. Lahan padi miliknya seluas 1,5 hektare terancam gagal panen akibat minimnya pasokan air dari irigasi. Bukan hanya dirinya, hamparan sawah yang berjejer di sekitarnya pun mengalami nasib serupa di perkirakan sekitar 40 hektar ikut terancam.
Tanah mulai pecah, retak seperti dilanda gempa. Tanaman padi tumbuh kurus, bulirnya sedikit. Kondisi ini menjadi realitas kehidupan petani yang bergantung penuh pada air di wilayah yang mengandalkan sawah tadah hujan.
“Air dari bendungan tidak sampai ke lahan kami. Bisa dibilang terancam gagal panen,” keluh Hasmar saat ditemui pada Selasa, 30 April 2026.
Yang lebih menyedihkan, kondisi ini bukan terjadi sekali. Hasmar menceritakan bahwa pada musim tanam sebelumnya, ia hanya mampu menghasilkan tidak lebih dari 10 karung gabah dari lahan 1,5 hektare miliknya. Jumlah tersebut jauh dari cukup untuk menutupi biaya produksi.
Fenomena ini bukan akibat El Nino, tapi kondisi lahan yang berada di wilayah ketinggian, yang memang harus menghadapi kondisi irigasi yang minim air.
Sementara untuk fenomena El Nino berdasarkan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika atau BMKG, El Nino termasuk potensi Super El Nino atau Godzilla El Nino diprediksi akan melanda Indonesia pada pertengahan tahun 2026, menyebabkan musim kemarau yang lebih kering dan panjang.
Di Indonesia wilayah terdampak utama berada di
Pulau Jawa, Nusa Tenggara, Sumatera & Kalimantan, Sulawesi, hanya sebagian sulawesi Selatan dan Bali.
Sedangkan Sulawesi Tenggara, fenomena El Nino tidak tercatat dalam prakiraan BMKG. Namun jika kondisi ini terus berlanjut, ancaman gagal panen bisa meluas dan berdampak pada ketahanan pangan daerah jika tidak di tangani serius pemerintah setempat.
Para petani pun berharap besar pada pemerintah. Mereka berharap pemerintah daerah segera turun tangan, memperbaiki sistem irigasi, serta menyediakan solusi jangka pendek seperti bantuan air atau pompanisasi agar siklus tanam di wilayah Asinua terus berlanjut meski dengan kondisi bendungan tadah hujan minim pasokan air.
Harapan dan jeritan masyarakat petani ini menjadi dasar pemerintah bertindak mengambil kebijakan dan melihat langsung kondisi di sana, jangan sampai harapan bertani mereka ikut kering seperti lahan persawahan yang kekurangan air.
Penulis : Husman (Wartawan Muda)













