JAKARTA : INPEDIA.ID – Pembangunan Bendungan Pelosika di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, senilai sekitar Rp9,8 triliun belum memasuki tahap konstruksi fisik dan saat ini masih berada pada tahap pemrograman serta persiapan untuk proses lelang.
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menargetkan pembangunan bendungan tersebut dilaksanakan pada 2026–2030 sebagai bagian dari pembangunan infrastruktur sumber daya air.
Bendungan Pelosika disiapkan untuk mendukung ketahanan pangan dan air, pengendalian banjir, penyediaan air baku, serta pengembangan energi di Sulawesi Tenggara.
Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan pembangunan bendungan harus diikuti pembangunan dan rehabilitasi jaringan irigasi sehingga air yang ditampung dapat dimanfaatkan secara optimal, terutama untuk mendukung sektor pertanian.
“Suplai air yang berkelanjutan menjadi kunci peningkatan produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani,” kata Dody.
Bendungan Pelosika dirancang memiliki kapasitas tampung total 1,117 miliar meter kubik dengan tampungan efektif 808 juta meter kubik. Luas genangan mencapai 5.451,56 hektare, sedangkan luas daerah tangkapan air mencapai 2.780,93 kilometer persegi.
Jika terealisasi, bendungan tersebut akan mendukung layanan irigasi seluas 20.458 hektare yang terdiri atas 12.678 hektare daerah irigasi fungsional dan 7.780 hektare daerah irigasi potensial.
Ketersediaan air irigasi tersebut ditargetkan meningkatkan indeks pertanaman dari 220 persen menjadi 300 persen, sehingga lahan pertanian yang sebelumnya dapat ditanami dua kali dalam setahun berpotensi ditanami hingga tiga kali.
Selain irigasi, Bendungan Pelosika dirancang menyediakan air baku sebesar 750 liter per detik bagi masyarakat Kabupaten Konawe. Pasokan tersebut diproyeksikan dapat memenuhi kebutuhan air bersih hingga sekitar 540.000 jiwa melalui instalasi pengolahan air dan jaringan perpipaan.
Bendungan tersebut juga dirancang sebagai infrastruktur pengendalian banjir. Luas wilayah yang berisiko terdampak banjir diproyeksikan berkurang dari 19.330 hektare menjadi 6.301 hektare.
Wilayah yang mendapat manfaat pengendalian banjir meliputi 10 kecamatan di Kabupaten Konawe, yakni Asinua, Abuki, Lambuya, Uepai, Unaaha, Konawe, Anggaberi, Wawotobi, Wonggeduku, dan Pondidaha.
Di sektor energi, Bendungan Pelosika dirancang mendukung pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) berkapasitas 40 megawatt serta Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebesar 261,12 megawatt.
Secara teknis, bendungan tersebut menggunakan tipe urugan inti clay dengan tinggi 63 meter. Elevasi puncak bendungan mencapai 121 meter, panjang puncak total 404,26 meter, dan lebar puncak 15 meter.
Desain Bendungan Pelosika juga dilengkapi pelimpah utama tipe ogee dan pelimpah darurat tipe broad-crest untuk mendukung aspek keamanan bendungan.
Dengan status saat ini, Bendungan Pelosika masih berada pada tahap persiapan menuju pelaksanaan konstruksi. Setelah proses lelang dan tahapan persiapan lainnya selesai, pembangunan fisik direncanakan berlangsung pada periode 2026–2030.
Proyek tersebut menjadi salah satu rencana pengembangan infrastruktur sumber daya air di Sulawesi Tenggara untuk mendukung irigasi, penyediaan air baku, pengendalian banjir, ketahanan pangan, dan pengembangan energi.











