Hasil Laboratorium Temukan E. coli pada Kuah Bakso MBG SMAN 20 Konawe

KONAWE : INPEDIA.ID – Hasil pemeriksaan laboratorium menemukan kandungan bakteri Escherichia coli (E. coli) dan total koliform pada sampel kuah serta pentolan bakso yang menjadi bagian menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 20 Konawe.

Sekretaris Daerah Kabupaten Konawe Ferdinand selaku Ketua Satgas MBG Kabupaten Konawe, Jumat (25/9), mengatakan hasil pemeriksaan tersebut menjadi bahan evaluasi pemerintah daerah bersama Badan Gizi Nasional (BGN) dan pihak terkait.

“Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium yang dipaparkan, ditemukan indikasi kontaminasi bakteri pada sampel kuah dan pentolan bakso,” katanya.

Berdasarkan data hasil pengujian, sampel kuah bakso mengandung total koliform 3.500 per 100 gram dan E. coli 150 per 100 gram. Sedangkan pentolan bakso mengandung total koliform 3.000 per 100 gram dan E. coli 140 per 100 gram.

Ferdinand mengatakan angka tersebut disebut berada di atas nilai toleransi dalam data pemeriksaan. Namun, hasil yang disampaikan secara lisan masih perlu dicocokkan dengan dokumen laboratorium resmi, termasuk satuan, metode pengujian, dan nilai batas yang digunakan.

Sebanyak 59 siswa dan guru SMAN 20 Konawe sebelumnya dilaporkan mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan MBG yang disajikan SPPG Lalonggowuna-Asao pada Kamis (24/9). Mereka kemudian mendapatkan penanganan medis di RSUD Konawe.

Baca juga https://inpedia.id/sejumlah-siswa-sma-di-konawe-diduga-keracunan-mbg/

“Atas nama pemerintah daerah dan selaku Ketua Satgas MBG Kabupaten Konawe, kami menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga dan para siswa yang terdampak atas kejadian tersebut,” ujarnya.

Kepala KPPG Kendari Mulyani mengatakan BGN telah menerima laporan khusus terkait kejadian tersebut pada 24 September 2026.

Sebagai tindak lanjut, BGN melalui Kedeputian Pemantauan dan Pengawasan memberikan status suspend selama 20 hari terhadap SPPG yang terkait dengan kejadian tersebut. Selama masa penangguhan, SPPG tidak melaksanakan layanan MBG bagi penerima manfaat.

Mulyani mengatakan operasional SPPG selanjutnya akan ditentukan berdasarkan hasil evaluasi terhadap kondisi infrastruktur dan layanan, termasuk kebutuhan perbaikan apabila ditemukan aspek yang belum memenuhi ketentuan.

BGN juga menyatakan akan bertanggung jawab terhadap biaya perawatan siswa terdampak yang menjalani perawatan di puskesmas maupun rumah sakit.

Selain SPPG terkait, BGN melalui KPPG, koordinator wilayah, dan koordinator regional akan mengevaluasi 26 SPPG di Kabupaten Konawe.

Evaluasi mencakup kompetensi sumber daya manusia, kepatuhan terhadap SOP, kondisi infrastruktur, sertifikasi dan persyaratan pendukung, pengelolaan limbah, serta rantai pasok bahan pangan.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Konawe akan memperkuat pengawasan terhadap seluruh tahapan penyediaan makanan MBG, mulai dari pengadaan bahan pangan, penerimaan bahan baku, pengolahan, penyimpanan, distribusi hingga penyajian.

Pengawasan terhadap pemasok bahan pangan juga akan ditingkatkan, termasuk pemeriksaan legalitas usaha, kelayakan bahan baku, dokumen pendukung, serta kualitas air dan bahan pangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *